Sabtu, 13 April 2013

Waspada… DIOKSIN memicu PMS (Pre Menstrual Syndrome)

“Kamu marah-marah terus..lagi M ya??”.Kadang, sering kita dengar pertanyaan itu. Wanita yang suka marah-marah, penuh emosi, mudah tersinggung saat menjelang waktu haidnya, (7-10 hari sebelum mens) berarti dia sedang mengalami Pre menstruation syndrome (PMS). PMS adalah kumpulan gejala fisik, psikologi dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita. Survey yang dilakukan di AS tahun 1982 menyatakan sekitar 50% wanita mengalami PMS dan di Indonesia kurang lebih 85% wanitanya mengalami PMS pada usia 25-35 tahun.

Secara umum, gejala PMS dari segi fisik adalah nyeri perut dan kembung, payudara bengkak dan kencang, sakit kepala, nyeri punggung, berat badan bertambah, bengkak pada kaki dan tangan, retensi air, mula dan muntah, nyeri otot dan persendian. Gejala psikis perilakunya bias meliputi mudah marah, perubahan mood yang kentara, sedih dan kadang suka menangis, cemas, depresi, mudah lupa, merasa kesepian, kurang konsentrasi, kurang berenergi, bingung, tidak percaya diri, mudah lelah, insomnia, pusing, suka ngemil, haus, makan berlebihan, ingin menyendiri, malas berinteraksi (sosial/pekerjaan), bahkan hilang hasrat seksual.  Selain PMS, sebenarnya, ada satu lagi gangguan yang lebih berat dari itu, yaitu PMDD (Premenstrual dysphoric disorder), bedanya pada PMDD perubahan mood sangat tajam sehingga dapat merusak hubungan sosial/pekerjaan. Sekitar 8% dari wanita amerika menderita PMDD ini.
Penyebab PMS adalah perubahan siklus hormon dan perubahan kimia dalam otak (serotonin). Fluktuasi serotonin (neurotransmitter) memainkan peran penting dalam mood dan bisa memicu gejala PMS. Kurangnya jumlah serotonin tidak saja dapat menyebabkan depresi pramenstruasi, tetapi juga kelelahan, nafsu memakan bertambah, masalah tidur, depresi, stress, pola makan yang buruk.
Penyebab gangguan hormonal sendiri dapat dikelompokan ke dalam faktor: toksin, stress, insulin dan gizi.  Berdasar keempat faktor ini PMS dapat dicegah/diringankan dengan cara :
  1. Konsumsi gizi seimbang dan kurangi garam, gula dan kafein; konsumsi karbohidrat kompleks, serat dari sayur dan buah, cukupi asupan vitamin B kompleks yang baik untuk sintesis neurotransmitter khususnya dopamin dan serotonin
  2. Terapi relaksasi dengan meditasi, yoga, tidur yang cukup
  3. Olahraga dengan teratur, minimal 3x/minggu
  4. Hindari paparan toksin seperti DIOKSIN. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa DIOKSIN berbahaya bagi kesehatan dan dapat mengacau sistem metabolisme hormonal wanita. Sumber-sumber dioksin sangat banyak, diantaranya dari pembalut dan pantyliner yang terbuat dari bahan-bahan tidak berkualitas dimana dalam proses pembuatannya menggunakan senyawa pemutih/klorin.
Dioksin menguap dan masuk ke dalam sistem reproduksi dan lama-kelamaan (20-30 tahun kemudian) bisa menyebabkan penyakit yang menyerang organ reproduksi wanita, salah satunya adalah ketidakseimbangan hormon yang mengacu pada ketidakseimbangan emosi. Pastikan menggunakan pembalut dan pantyliner bebas dioksin agar bebas PMS sekaligus mengurangi resiko berbagai gangguan/penyakit organ reproduksi wanita yang lainnya.

Sumber:
1.http://www.scribd.com/doc/46170312/Faktor-Faktor-Yang-Mempengaruhi-Terjadinya-Pre-Menstrual-Syndrom-PMS-Pada-Wanita-Usia-25-35-Tahun
2. mayo clinic